Kamis, 09 Januari 2014

Pertanyaan Hubungan TIK dan Komputer

Diposting oleh Anggita Firdausi di 10.12 0 komentar

1. Ali husein

  Apakah TIK dapat dipisahkan dengan komputer?

  jawab:

      Jika dilihat dalam pengertiannya, TIK merupakan segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Sedangkan komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan. Computer tidak bisa di pisahkan dari TIK karena computer merupakan alat dari TIK tersebut. Jika di pisahkan maka alat itu tidak bisa berfungsi secara optimal.

2. Abdul kholiq

  Bagaimana meminalisir dampak negative tersebut ?

  jawab:

        Terbukanya pasar bebas masuk dengan bebas, meminalisirnya dengan cara penyadapan telfon genggam  lalu dengan cara membuat password. Sehingga orang luar tidak bisa masuk secara bebas ke wilayah Indonesia .Maka dengan ini dapat meminalisir dampak negative yang ada di Indonesia ini. Contohnya seperti kartun upin ipin, awalnya kita yang membuat tetapi orang yang membuat kartun di Indonesia tersebut malah menjualnya kepada negara lain. Seharusnya masyarakat Indonesia bangga dengan produk yang kita buat. Maka cara meminimalisir dampak negative disini yaitu dengan cara kita harus lebih mencintai produk-produk Indonesia karena produk Indonesia sejujurnya lebih berkualitas dari produk luar. Maka dari itu kita wajib sekali yang namanya cinta produk dalam negeri bukan luar negeri
 

3. Rizki Diah Oktaviana

  Adakah dampak negative pengaruh TIK dalam BK ?
  Jawab:
         Contoh realnya yaitu copas yang dilakukan oleh mahasiswa atau mahasiswi. Mereka membuat tugas kuliah dengan copas kepada temannya. Contoh lain mahasiswa yang mengcopy tugas dari blog BK yang kurang bisa dipercaya sumbernya. kemungkinan yang membuat tersebut siswa SMP atau SMA.


Power Point TIK

Diposting oleh Anggita Firdausi di 10.03 0 komentar
Power Point Hubungan TIK dan Komputer download disini

Power Point TIK

Diposting oleh Anggita Firdausi di 09.06 0 komentar
1. Komponen hardware dan software komputer download disini
2. Hubungan TIK dan Komputer download disini
3. Media pembelajaran download disini
4. Program pemerintah dan swasta dalam implementasi dalam BK download disini
5. Komponen-komponen data dan Informasi download disini
6. Teknologi informasi BK download disini
7. Teknologi Informasi dan Komunikasi download disini
8. Peran dan Manfaat TIK download disini

PSIKOLOGI KOMUNITAS

Diposting oleh Anggita Firdausi di 09.01 0 komentar
 Sejarah Psikologi Komunitas

       Psikologi komunitas di Amerika mulai berkembang sejak 1955, ketika diumumkan undang-undang tentang pengembangan konsep kesehatan mental komunitas untuk mengurangi jumlah rumah sakit jiwa. Pada tahun 1963 Kennedy Bill mengemukakan sistem komprehensif dalam layanan kesehatan mental, melakukan deteksi dini dar gangguan kesehatan mental yang dapat menurunkan jumlah penderita yang dimasukkan ke RSJ. Tahun 1965 dianggap sebagai kelahiran Psikologi Komunitas pada saat itu diadakan konferensi di Massachusetts dimana para psikolog membahas masa depan dan peran kesehatan mental, dan tak lama berselang terbentuk Community Psychology dalam American Psychological Association (APA) Arti dan Fungsi Di Indonesia Psikologi Komunitas dibahas sebagai “Kesehatan Masyarakat” dalam disiplin ilmu kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat.
       Psikologi Komunitas juga merupakan subbagian dalam Psikologi Sosial, Sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tapi dalam hal ini Psikologi Komunitas akan diuraikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang lain dalam hal gangguan emosional, penysuaian diri dan masalah-masalah psikologis lainnya. Dalam pendekatan psikologi klinis, treatment diberikan kepada seseorang atau kelompok yang mengalami gangguan atau yang memiliki masalah dan klien menerima treatment tersebut. Kenyataannya seringkali sulit untuk memastikan siapa yang memerlukan terapi atau bantuan psikologis.
      Dilihat dari pandanan sosiokultual, lingkungan sosio kltural dan interaksinya dengan subjek atau sekelompok subjeklah penyebab munculnya gangguan jiwa, hal ini dikarenakan tuntutan sosial kepada subjek untuk mengikuti kondisi yang berlaku misalnya norma sosial, dan lainnya. Banyak perubahan-perubahan dalam tatanan masyarakat sekarang ini yang menyebabkan banyaknya muncul gejala-gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, polusi udara, pengungsian penduduk bahkan bencana alam sangat memungkinkan munculnya ancaman gangguan-gangguan psikologis terutama dalam hal gangguan emosional.   
        Kondisi ini membutuhkan suatu pendekatan yang tidak menggunakan cara tradisional dari psikologi klinis, tetapi membutuhkan sutau pendekatan menyeluruh yakni pendekatan komunitas. Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antar sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Psikologi komunitas didefinisikan sebagai sutau pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkunan dalam menciptakan masalah atau mengurangi masalah.
Psikologi komunitas berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial yang dikembangkan melalui intervensi juga riset dengan seting mencakup masyarakat dan komunitas pribadi.
     Sistem Kerja Seorang ahli yang bernama Rapaport mengemukakan bahwa pespektif dari psikologi komunitas memberikan perhatian pada tiga hal utama yakni :
Pengembangan sumber daya individu. Aktivitas politik. Ilmu Pengetahuan. Ada beberapa konsep yang sangat melekat pada pendekatan psikologi komuntas, yakni pada :
  • Pencegahan. Pencegahan dari gangguan psikologis bertujuan untuk menghemat biaya perawatan penderita. Terdiri dari tiga yakni pencegahan primer, sekunder dan tertier. 
  • Pemberdayaan manusia. Pemberdayaan manusia dalam masyarakat bertujuan untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah munculnya gangguan-gangguan psikologis.
Beberapa pertimbangan-pertimbangan dalam psikologi komunitas : 

  • Psikologi Komunitas menekankan kepada dua aspek secara serentak yakni kondisi masyarakat sebagai dasar teori dan riset pada proses lingkungan sosial. 
  • Memusatkan, tidak hanya bertitik tolak pada kondisi psikologis individu, akan tetapi atas berbagai tingkatan analisa yang bergerak dari individu kemudian mengkelompokkannya ke dalam organisasi dan akhirnya kepada struktur yang terbesar yakni kelompok masyarakt secara utuh dimana individu berada. 
  • Psikologi Komunitas meliputi atau cakupan jangkauan luas berupa seting dan substansi dari suatu area/daerah komunitas. 
       Dari ketiga dasar tersebut di atas psikologi komunitas dalam menganalisis permasalahan individu memiliki keunikan tersendiri dimulai dari kondisi individu itu sendiri kemudian mengarah kepada suatu pergerakan sosial masyarakat atau sebaliknya atau juga dimulai secara bersama-sama. Pada dasarnya Psikologi komunitas orientasi kerjanya hampir sama dengan psikologi klinis dan kesehatan mental masyarakat dengan tujuan untuk mengenalkan kesejahteraan manusia. Tetapi psikologi komunitas tidak hanya puas denan kencenderungan klinis yang hanya menempatkan permasalahan kesehatan mental yang berfokus di dalam diri individu. Psikologi komunitas lebih melihat ancaman terhadap kesehatan mental dari lingkungan sosial atau konflik/ ketidakcocokan antara individu dengan lingkungannya. Penekanan secara spesifik lebih kepada dukungan sosial bukan kepada perubahan individu.
        Psikologi komunitas lebih memusatkan perhatian pada kesehatan bukan kepada penyakit, dan kepada peningkaan kemampuan individu dan komunitasnya. Hal inilah yang mungkin merupakan simbol dari psikologi komunitas dan yang membedakannya dengan psikologi klinis dan kesehatan mental yang lebih berfokus kepada perubahan individu. Blomm mengemukakan perbedaan antara layanan psikologi tradisional dengan layanan pendekatan kesehatan mental komunitas terletak pada : penekanan pencegahan, intervensi dalam komunitas dilakukan dalam populasi yang terbatas, promosi dalam pelayanan tak lamgsung misalnya melalui pelatihan dan pemberdayaan, pelaksanaan yang dilakukan oleh ahli dari berbagai bidan ilmu. Psikologi komunitas lebih berorientasi kepada tindakan preventif (pencegahan).
       Maknanya psikologi komunitas berusaha untuk mencegah permasalahan terjadi ke depan, dibandingkan menunggu permasalahan tersebut muncul dan menjadi lebih serius. Psikologi komunitas lebih melihat kepada adanya indikasi dari suatu keadaan sehingga bisa melakukan tindakan preventif, dan memiliki prediktor apa yang akan terjadi ke depan dengan kondisi yang ada sekarang. Dengan adanya prediktor inilah yang menjadikan Psikologi komunitas berbeda dengan kesehatan masyarakat, dalam memandang kesehatan mental, institusi sosial, dan mutu hidup secara umum. Psikologi komunitas harus memiliki orientasi riset yang kuat, karena sangat tergantung kepada suatu dugaan yang mengarah kepada permasalahan-permasalahan sosial yang akan muncul dengan kondisi yang ada.
      Psikologi komunitas seperti halnya juga psikologi sosial di dalam pengambilan suatu sistem atau kelompok melalui pendekatan kepada tingkah laku manusia, akan tetapi lebih terkait kepada suatu pengetahuan psikologis untuk memecahkan permasalahan sosial sedangkan psikologi ssial lebih berorientasi kepada fenomena-fenomena interaksi individu dengan sosialnya. Psikologi komunitas juga banyak mengunakan orientasi-orientasi sikologi industri dan organisasi tetapi diterapkan kepada organisasi masyarakat, bagaimana individu mengikuti sistem sosial yang ada dan mendukung jaringan sosial tersebut. 
     Permasalahan para pekerja dan klien pada sistem manajemen diaplikasikan ke dalam penelahaan isu peraturan sosial dan kontrol masyarakat, dan karakteristik serta kemampuan menghadapi kelompok sosial secara lemah, seperti permasalahan minoritas dan lain sebagainya. Tujuan Area psikologi komunitas terbentuk pada membantu atau meningkatkan kemampuan individu yang powerless terhadap komunitas sosialnya misalnya kalangan minoritas, dan kemampuan individu untuk dapat mengambil kendali atas lingkungan dan kehidupan mereka.Hal ini sangat diperlukan karena pada gilirannya, akan membantu perkembangan individu dalam mengembangkan psychological sense of community.
     Psikologi komunitas memiliki berbagai pendekatan kearah perubahan sistem sosial : Mengenalkan pertumbuhan dan pengembangan individu dan mencegah munculnya suatu permasalahan kesehatan mental dan sosial. Membuat suatu format intervensi yang sesuai dan cepat pada saat mana intervensi tersebut sangat diperlukan. Memungkinkan mereka yang telah bermasalah untuk hidup dengan baik dan mendapat sokongan dar komnitasnya dan lebih baik lagi tingal pada tempat yang dapat menerima kondisinya dan dia akan mendapatkan dukungan
      Sebagai contoh, psikologi komunitas mungkin dapat memberi intervensi terhadap individu dengan cara : Menciptakan dan mengevaluasi arah kebijakan dan program yang membantu masyarakat mengontrol tekanan ayang muncul dari aspek dan lingkungan organisatoris yang memunculkan permasalahan. Menilai kebutuhan suatu masyarakat dan memberi arahan anggotanya bagaimana cara mengenali suatu masalah yang masih permulaan dan menghadapi permasalahan yang sudah muncul dan besar. Belajar dan menerapkan jalan yang lebih efektif dan menyesuaikan dengan populasi untuk hidup secara lebih produktif dalam tedensi masyarakat.

     Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pendekatan komunitas : 

  1. Pendekatan Komunitas menekankan kepada efek dari dukungan sosial dan tekanan sosial masyarakat serta tindakan preventif dan self-help. 
  2. Pemberdayaan lokal dan pentingnya keanekaragaman dan relatifitas budaya. Menekankan kepada masyarakat, kekmampuan dan kekuatan pribadi sebagai counter terhadap penyakit dan kelemahan. 
  3. Perspektif komunitas menekankan pada fungsi riset tidak hanya sebagai pengembangan teori tetapi juga untuk kebijakan dan evaluasi program analisis, dan kehadirannya secara impliait dan berharga bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat dan juga ilmu pengetahuan. 
      Pada intinya pendekatan komunitas tidak meletakkan gangguan di dalam individu yang terganggu dan juga tidak secara totalitas menyalahkan lingkungan akan tetapi fokusnya kepada interaksi orang dengan lingkungan-mengidentifikasikan peran dan daya lingkungan yang dapat menciptakan/mengurangi masalah individu dan kemudian memusatkan diri pada pemberdayaan individu dan kelompok individu untuk lebih dapat dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.
Bentuk peran nyata dari psikologi komunitas :
  1. 1. Melakukan penelitian untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisa masalah-masalah komunitas, melakukan penelitian mengenai sikap-sikap masyarakat, mengevaluasi program-program sosial tertentu.
  2. 2. Berpartisipasi dalam merancang/membuat pola-pola pelayanan sosial serta memberikan evaluasi terhadap program tersebut.
  3. 3. Secara profesional berpartisipasi aktif dalam program gerakan-gerakan, sosial bagi pengembangan masyarakat, termasuk juga merancang lingkungan sosial yang dapat memperkecil kesulitan-kesulitan penyesuaian dan memperluas kesempatan pengembangan pribadi dilingkungan sosial tersebut.

Model dan proses Psikologi Komunitas.

     Disini akan dipaparkan sedikit bagaimana sudut pandang psikologi komunitas dalam melihat atau menganalisis dan melakukan pendekatan terhadap permasalahan psikologi pada diri individu. Sebagai ilustrasi, ahli psikologi mengatakan gangguan jiwa disebabkan oleh fenomena intra psikis (interaksi yang terjadi diantara aspek-aspek psikis). Ahli psikoanalisis mengatakan terdapat 3 struktur kepribadian pada individu : id, ego dan superego. Menurut pandangan psikoanalisis timbulnya permasalahan kejiwaan dikarenakan adanya ketidakseimbangan di 3 struktur kepribadian tersebut. Misalnya psikopat dikatakan sebagai gangguan kepribadian yang berat dengan ciri perkembangan superego yang terhambat, fungsi ego baik dan id yang normal. Tapi dilihat dari sudut pandang psikologi komunitas muculnya gangguan ini merupakan produk dari interaksi anatar individu dengan lingkungan sosialnya.
         Dalam menganalisis kedudukan individu dalam komunitasnya, psikologi komunitas menggunakan 2 titik tolak :
  1. Individu sebagai agen (tokoh;pelaku) didalam kehidupan komunitasnya. Dalam hal ini komunitas berfungsi sebagai : - Arena/tempat munculnya tingkah laku. - Tempat individu berinteraksi dan merupakan lingkungan yang dapat mendukung/menghambat individu.Contoh :Individu yang cerdas, tidak akan berkembang pada lingkungan sosial yang tidak mendukungnya, dan tidak memiliki fasilitas pendukung. Tapi individu ini akan berkembag jika berada pada lingkugan sosial yang mendukung dan memiliki fasilitas yang cukup
  2. Individu dipandang sebagai objek dari kehidupan komunitasnya. Disini fungsi komunitas sebagai sarana/media untuk terjadinya perubahan-perubahan kualitas dari individu. Contoh : suatu daerah yang terpencil, mengalami perubahan yang radikal seiring dengan perkembangan zaman, menjadi daerah yang ramai dan pesat. Secara langsung akan mengubah perilaku individu-individu yang ada di dalamnya. Proses psikologi komunitas merupakan konteks (ruang lingkup) untuk menerapkan model-model psikologi komunitas. Istilah model digunakan untuk menunjuk pada suatu penyajian struktur dan fungsi dalam hal ini permasalahan komunitas.

Dalam masalah-masalah komunitas, psikologi komunitas menerapkan model :
  1. Model Kesehatan Mental ( The Mental Health Model). Model ini beranggapan bahwa mencegahterjadinya gangguan mental akan lebih efektif daripada mengobati. Model kesehatan mental lebih menekankan pada pendekatan preventif/prevention.
  2. Model Organisasi (The Organization Model). Model ini didasarkan pada penelitian-penelitian sosial, terutama penelitian yang menelaah, mengenai pengaruh kondisi/organisasi atau sistem organisasi pada sistem sosial terhadap kelompok. Misalnya pengaruh gaya kepemimpinan. Model ini beranggapan bahwa manajemen/pengelolaan bertanggung jawab untuk mengorganisir elemen-elemen dalam kelompok., seperti : uang, materi/benda, alat-alat, manusia yang bertujuan untu7k mendapatkan profit. Dalam hubungannya dengan manusia, proses ini bertujuan untuk mengarahkan usaha-usaha memotivasi dan mengontrol tindakan serta mengontrol perilaku gara sesuai dengan tujuan. Tanpa adanya intervensi dari manajemen, manusia akan menjadi pasif dan tidak responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan kelompok
  3. Model Tindakan Sosial (The Social Action Model). Model ini menggunakan pendekatan dengan berpartisipasi langsung terhadap kondisi yang menyebabkan timbulnya gangguan/masalah di dalam masyarakat. Misalnya : mengatasi masalah kemiskinan, caranya dengan memobilisasi dan mengkoordinasikan sumber-sumber yang ada dalam komuniti, keterlibatan secara langsung dalam mengatasi kemiskinan, misalnya menciptakan lapangan kerja, merangsang pertumbuhan usaha-usaha wiraswasta, memberikan pinjaman/kredit.
  4.  Model ekologi (The Ecological Model). Model ini dipegaruhi oleh Teori Kurt Lewin yang menekankan pada saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan. Model ini beranggapan bahwa prinsip-prinsip ekologi dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul serta untuk menciptakan proses-proses intervensi yang dibutuhkan.

MENGENALI MINAT DIRI

Diposting oleh Anggita Firdausi di 01.09 0 komentar
A. Pengertian Minat 

      Pengertian minat menurut Tidjan (1976 :71) adalah gejala psikologis yang menunjukan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek sebab ada perasaan senang. Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa minat itu sebagai pemusatan perhatian atau reaksi terhadap suatu obyek seperti benda tertentu atau situasi tertentu yang didahului oleh perasaan senang terhadap obyek tersebut. Sedangkan menurut Drs. Dyimyati Mahmud (1982), Minat dalah sebagai sebab yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain, atau minat sebagai akibat yaitu pengalaman efektif yang distimular oleh hadirnya seseorang atau sesuatu obyek, atau karena berpartisipasi dalam suatu aktifitas.
       Witherington (1999), minat adalah kesadaran seseorang dalam sesuatu obyek seseorang, suatu soal atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya. Pengetahuan atau informasi tentang seseorang atau suatu obyek pasti harus ada terlebih dahulu dapat minat obyek tadi. Slameto (1995), Minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas atau kegiatan. Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas dan memperhatikan itu secara konsisten dengan rasa senang. Menurut Heri (1998) Minat adalah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu yang merupakan kekuatan di dalam dan tampak di luar sebagai gerak – gerik.
       Dalam menjalankan fungsinya minat berhubungan erat dengan pikiran dan perasaan. Manusia memberi corak dan menentukan sesudah memilih dan mengambil keputusan. Perubahan minat memilih dan mengambil keputusan disebut keputusan kata hati. Crow and Crow, minat adalah pendorong yang menyebabkan seseorang memberi perhatian terhadap orang, sesuatu, aktivitas-aktivitas tertentu. ( Johny Killis: 1988) Hardjana dalam Lockmono (1994), minat merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu yang timbul karena kebutuhan, yang dirasa atau tidak dirasakan atau keinginan hal tertentu. Minat dapat diartikan kecenderungan untuk dapat tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang sesuatu barang atau kegiatan dalam bidang-bidang tertentu. H.C. Witherington yang dikutip Suharsini Arikunto (1983)., “Minat adalah kesadaran seseorang terhadap suatu objek, suatu masalah atau situasi yang mengandung kaitan dengan dirinya.” Batasan ini lebih memperjelas pengertian minat tersebut dalam kaitannya dengan perhatian seseorang. 
     Perhatian adalah pemilihan suatu perangsang dari sekian banyak perangsang yang dapat menimpa mekanisme penerimaan seseorang. Orang, masalah atau situasi tertentu adalah perangsang yang datang pada mekanisme penerima seseorang , karena pada suatu waktu tertentu hanya satu perangsang yang dapat disadari. Maka dari sekian banyak perangsang tersebut harus dipilih salah satu. Perangsang ini dipilih karena disadari bahwa ia mempunyai sangkut paut dengan seseorang itu. Kesadaran yang menyebabkan timbulnya perhatian itulah yang disebut minat. Berdasarkan definisi minat tersebut dapatlah penulis kemukakan bahwa minat mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
  1. Minat adalah suatu gejala psikologis 
  2. Adanya pemusatan perhatian, perasaan dan pikiran dari subyek karena tertarik. 
  3. Adanya perasaan senang terhadap obyek yang menjadi sasaran 
  4. Adanya kemauan atau kecenderungan pada diri subyek untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan. Berdasarkan beberapa Pengertian Minat menurut ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa minat adalah gejala psikologis yang menunjukan bahwa minat adanya pengertian subyek terhadap obyek yang menjadi sasaran karena obyek tersebut menarik perhatian dan menimbulkan perasaan senang sehingga cenderung kepada obyek tersebut.

 B. Factor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Minat

        Menurut Crow and Crow, ada tiga faktor yang menimbulkan minat yaitu “Faktor yang timbul dari dalam diri individu, faktor motif sosial dan faktor emosional yang ketiganya mendorong timbulnya minat”, Pendapat tersebut sejalan dengan yang dikemukakan Sudarsono, faktor-faktor yang menimbulkan minat dapat digolongkan sebagai berikut :
  1. Faktor kebutuhan dari dalam. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan. 
  2. Faktor motif sosial, Timbulnya minat dalam diri seseorang dapat didorong oleh motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, perhargaan dari lingkungan dimana ia berada. 
  3. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang dalam menaruh perhatian terhadap sesuat kegiatan atau objek tertentu ( 1980 : 12)

 C. Proses Timbulnya Minat
     Menurut Charles yang dikutip oleh Slamet Widodo dideskripsikan sebagai berikut : Pada awalnya sebelum terlibat di dalam suatu aktivitas, siswa mempunyai perhatian terhadap adanya perhatian, menimbulkan keinginan untuk terlibat di dalam aktivitas ( Slamet Widodo, 1989 : 72 ). Minat kemudian mulai memberikan daya tarik yang ada atau ada pengalaman yang menyenangkan denga hal-hal tersebut.

D. Fungsi Minat

     Crow and Crow ( 1973 : 153 ) menyatakan ”....the word interested may be used to the motivatoring force which courses and individual to give attenrion force person a thing or activity.” Pendapat disini dmaksudkan bahwa perhatian kepada seseorang, sesuatu maupun aktivitas tertentu, sementara ia kurang atau bahkan tidak menaruh perhatian terhadap seseorang, sesuatu atau aktivitas yang lain. Dari uraian tersebut dengan adanya minat memungkinkan adanya keterlibatan yang lebih besar dari objek yang bersangkutan. Karena minat berfungsi sebagai pendorong yang kuat.

E. Macam-macam Minat Minat

dibagi 2 yaitu :
  1. Minat primitif atau biologis Minat yang timbul dari kebutuhan – kebutuhan jasmani berkisar pada soal makanan, comfort, dan aktifitas. Ketiga hal ini meliputi kesadaran tentang kebutuhan yang terasa akan sesuatu yang dengan langsung dapat memuaskan dorongan untuk mempertahankan organisme.
  2. Minat cultural atau sosial Minat yang berasal dari perbuatan belajar yang lebih tinggi tarafnya. Orang yang benar – benar terdidik ditandai dengan adanya minat yang benar – benar luas terhadap hal – hal yang bernilai (Witherington, H. C, 1999)

F. Cara Menemukan Minat dalam Diri
  1.  Jujur pada diri sendiri 
  2.  Eksplorasi diri 
  3.  Memahami diri 
  4.  Semua hal yang baik membutuhkan waktu 
  5.  Tentukan tujuan   

Daftar Pustaka 

Heri, P. (1998). Pengantar Perilaku Manusia. Jakarta : EGC. Loekmono. Belajar Bagaimana Belajar. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994. Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta. 1995. Witherington, H. C. (1999). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Aksara Baru.

CARA MENGATUR WAKTU BELAJAR SECARA EFISIEN

Diposting oleh Anggita Firdausi di 01.07 0 komentar
      Tugas utama siswa adalah belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan di sekolah dan di rumah. Waktu untuk kegiatan belajar di sekolah, yaitu kurang lebih 5 jam sehari. Sementara itu, waktu untuk belajar di rumah ditentukan oleh masing-masing siswa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Penggunaan waktu belajar secara efisien dapat meningkatkan keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu, setiap siswa sebaiknya dapat mengatur waktu belajarnya secara efisien.

A.Petunjuk Menyusun Waktu Belajar Secara Efisien. 

     Agar siswa dapat menggunakan waktu belajar secara efisien, siswa dapat mengikuti petunjuk di bawah ini. 
  1. Susunlah daftar kegiatan belajar. Siswa dapat menentukan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu. Kegiatan tersebut mencakup kegiatan sekolah pada hari tu terutama tugas-tugas yang harus diselesaikan di rumah dan kegiatan belajar lainnya. Jenis kegaiatan belajar di rumah mencakup kegiatan mengerjakan tugas sekolah dan kegiatan belajar di rumah, yaitu mempelajari buku paket, menghafal buku pelajaran, mengerjakan pekerjaan rumah, memindah catatan, membuat ringkasan bahan pelajaran, mempersiapkan diri menghadapi ulangan, dan lain-lain. Setelah selesai menentukan jenis kegiatan belajar, selanjutnya menentukan prioritas pelaksanaannya. Dari kegiatan terpenting berturut-turut sampai yang kurang penting. Siswa dapat membuat daftar kegiatan belajar dalam buku catatan harian atau pada kertas. Contoh : Kegiatan belajar yang sudah diurutkan menurut prioritas pe-laksanaannya. Hari Senin a.Menghafal materi Biologi untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan esok pagi b.Mengerjakan PR Matematika c.Menghafal materi pelajaran Agama, Geografi dan Bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran esok pagi d.Mengerjakan tugas membuat prakarya, yaitu membuat asbak dari tanah liat. 
  2. Menetapkan waktu belajar. Masing-masing individu mempunyai kebiasaan belajar yang berbeda. Ada individu yang bisa belajar dengan baik sore hari, ada yang pada malam hari, dan ada yang pada pagi hari. Dengan menetapkan waktu belajar tertentu sesuai dengan kondisi masing-masing individu, akan terbentuk kebiasaan belajar yang baik. 
  3. Bertanyalah pada diri sendiri tentang pelajaran yang anda anggap sukar dan pelajaran yang anda anggap mudah. Masing-masing orang berbeda dalam menentukan pelajaran yang sukar dan yang mudah. Ada yang menganggap pelajaran Matematika lebih sukar dari pelajaran Bahasa Inggris. Ada juga siswa yang menganggap pelajaran Bahasa Inggris lebih sukar dari pelajaran Matematika. 
  4. Pelajari lebih dahulu yang anda anggap sukar. 
  5. Mata pelajaran yang anda anggap sukar, hendaknya dipelajari lebih lama agar betul-betul anda kuasai. 
  6. Berilah waktu yang cukup untuk setiap mata pelajaran. 
  7. Buatlah satuan belajar selama satu jam. Tidak ada pedoman yang pasti untuk menetapkan lama waktu belajar. Umumnya, setiap babak waktu belajar antara 80 menit sampai dengan 90 menit. Setelah anda belajar selama kurang lebih satu jam, anda dapat melakukan selingan belajar antara 5 sampai 10 menit dengan melakukan selingan makan makanan kecil, mendengarkan musik atau melakukan gerakan kecil untuk meluruskan kaki sehingga selingan perlu dilakukan agar badan tetap segar dan tidak mudah lelah. 
  8. Ulangilah pelajaran yang baru saja diberikan di kelas. Bacalah kembali pelajaran tersebut sebelum anda menghadapi pelajaran berikutnya. 
  9. Pelajarilah setiap mata pelajaran sesering mungkin. Jika anda belajar satu jam setiap hari selama enam hari berturut-turut maka anda dapat memperoleh hasil yang lebih besar daripada belajar enam jam sekaligus, tetapi hanya sehari. 
  10. Jangan menyia-nyiakan waktu luang. Misalnya, ada guru yang berhalangan hadir, atau pelajaran selesai sebelum waktunya, gunakan waktu luang itu untuk belajar, diskusi atau membaca.
  11. Gantilah waktu belajar yang hilang. Anda harus mengganti waktu belajar yang hilang karena melakukan kegiatan lain saat anda harus belajar. Misalnya harus menghadiri pesta pernikahan saudara sehingga waktu belajar anda ada yang hilang. Waktu yang hilang tersebut dapat diganti dengan mengurangi waktu untuk berekreasi/bermain sehingga alokasi waktu belajar anda tetap pada porsinya.

B.Petunjuk Menyusun Jadwal Belajar.

      Waktu anda untuk belajar di rumah sangat terbatas, namun banyak pelajaran yang perlu anda pelajari dan banyak kegiatan belajar yang yang harus diselesaikan. Agar anda dapat membagi dan menggunakan belajar dengan baik, anda dapat membuat jadwal belajar. Ada enam langkah yang perlu anda lakukan berikut ini.  
  1. Catatlah semua kegiatan yang sudah pasti.Kegiatan ini meliputi kegiatan rutin di luar belajar, seperti makan, mandi, kegiatan belajar di sekolah, kegiatan keagamaan, kegiatan mengembangkan bakat, kegiatan les tambahan dan istirahat. 
  2. Menentukan waktu untuk tidur. Sebaiknya anda menyediakan waktu antara enam sampai dengan delapan jam untuk tidur. Jika anda tida ada kegiatan pada siang hari, anda dapat tidur siang selama satu jam.
  3. Menentukan waktu makan, mandi, berpakaian, berhias dan lain-lain. 
  4.  Menentukan waktu belajar (kurang lebih dua jam). Secara pasti anda telah mengetahui jumlah waktu untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah kurang lebih 5 jam. Untuk waktu belajar di rumah, dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anda masing-masing 
  5.  Menentukan waktu untuk kegiatan lain, seperti nonton televisi, mengembangkan kegemaran (hobi), dan rekreasi/bermain (kurang lebih 2 jam). 
  6.  Gunakan hari Minggu untuk kegiatan-kegiatan selain belajar. Untuk memperjelas uraian tersebut, di bawah ini dapat anda lihat contoh jadwal dan penggunaan waktu yang disusun oleh seorang pelajar SMP.

KETRAMPILAN KONSELING SUMMARY DAN TERMINATION

Diposting oleh Anggita Firdausi di 00.54 0 komentar
BAB I 
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah 

      Bagi seorang konselor menguasai teknik konseling adalah mutlak. Sebab dalam proses konseling, teknik yang baik adalah kunci keberhasilan menuju tercapainya tujuan konseling. Seorang konselor yang efektif harus mampu merespon klien dengan teknik yang benar, sesuai dengan keadaan klien saat itu. Respon yang benar adalah respon yang mampu mendorong, merangsang, dan menyentuh klien sehingga klien dapat terbuka untuk menyatakan dengan bebas perasaan, pikiran dan pengalamannya.
       Selanjutnya klien harus terlibat dalam diskusi mengenai dirinya. Selain itu konselor juga harus menguasai ketrampilan untuk mengakhiri proses konseling, sehingga klien merasa nyaman dan lega saat meninggalkan ruang konseling. Respon konselor terhadap klien mencakup dua sasaran yaitu perilaku verbal dan perilaku nonvebal. Seorang konselor bukanlah robot melainkan seseorang yang sarat akan latar belakang sosial-budaya, agama, persoalan-persoalan hidup, keinginan dan cita-cita, dan sebagainya.
     Apabila seorang konselor sedang dalam kondisi tidak nyaman, maka besar kemungkinan kondisi tersebut akan terbawa tanpa sengaja kedalam hubungan konseling. Untuk mengatasi hal tersebut konselor harus berusaha mengusir masalah pribadi semaksimal mungkin. Dari latar belakang diatas, maka penulis berinisiatif untuk menuliskan beberapa ketrampilan yang sering digunakan dalam proses konseling, diantaranya ketrampilan summary dan termination.  

B. Rumusan Masalah 

Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah diantaranya: 
1. Apa yang dinamakan dengan ketrampilan summary? 
2. Apa tujuan dari ketrampilan summary? 
3. Bagaimana modalita dari ketrampilan summary?
4. Apa yang dinamakan dengan ketrampilan termination? 5. Apa tujuan dari ketrampilan termination? 6. Bagaimana modalita dari ketrampilan termination?  

C. Tujuan 

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian ketrampilan summary.
2. Untuk mengetahui tujuan dari ketrampilan summary.
3. Untuk mengetahui modalita yang digunakan dalam ketrampilan summary.
4. Untuk mengetahui pengertian ketrampilan termination.
5. Untuk mengetahui tujuan dari ketrampilan termination.
6. Untuk mengetahui modalita yang digunakan dalam ketrampilan termination. 

BAB II 
PEMBAHASAN  

A. Summary (Ringkasan)
1. Pengertian 

      Menurut Supriyo dan Mulawarman (2006) summary (ringkasan/kesimpulan) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk menyimpulkan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan klien pada proses komunikasi konseling. Membuat ringkasan adalah ketrampilan konselor untuk mendapatkan kesimpulan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan oleh konseli pada proses wawancara konseling. Menurut Willis (2004) konselor harus mampu membuat kesimpulan sementara bersama klien agar mempertajam masalah, meningkatkan kualitas diskusi, maju ke taraf selanjutnya ke arah tujuan, menyimpulkan hal-hal yang dibicarakan, dan klien memperoleh kilas balik dari hasil pembicaraan sehingga dia tahu bahwa konseling makin maju. Summary bermanfaat sangat penting bagi konselor dan konseli, karena memberi kesempatan berpartisipasi pada keduanya. Selain itu summary sangat penting untuk mengakhiri satu bagian atau bagian pertama yang kemudian dilanjutkan pada bagian berikutnya dan juga memberikan kesempatan bagi konselor untuk mendorong konseli mengutarakan perasaannya mengenai proses konseling.
2. Tujuan Summary 

       Menurut Willis (2004) tujuan dari summarizing) adalah: a. Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik (feed back) dari hal-hal yang telah dibicarakan. b. Untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. c. Untuk meningkatkan kualitas diskusi. d. Mempertajam atau memperjelas fokus pada wawancara konseling. 3. Jenis-jenis Summary dan Modalita yang Digunakan Summary dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Summary bagian, dan (2) Summary akhir/keseluruhan. 

a. Summary Bagian 
      Dalam Supriyo dan Mulawarman (2006), summary bagian merupakan kesimpulan yang dibuat setiap saat dari percakapan klien dan konselor yang dipandang penting. Modalita yang digunakan dalam teknik ini adalah: “Untuk sementara ini.........” ; “Sampai saat ini.........” ; “Sejauh ini.......” ; “Selama ini.....” dsb. Contoh: Klien : “Begini Bu, akhir-akhir ini banyak teman yang mengecewakan saya, ada yang tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, ada yang tiba-tiba menjelekkan saya. Saya pun jadi merasa terganggu, selain menjadi beban pikiran saya, saya juga jadi tidak bisa berkonsentrasi belajar dan akibatnya nilai-nilai saya turun drastis”. Konselor : “Sejauh ini dari pembicaraan kita dapat saya simpulkan bahwa kita telah membahas masalah yang Anda hadapi yaitu masalah soal teman Anda dan masalah mengenai konsentrasi belajar Anda yang terganggu. Sekarang marilah kita mencari cara-cara yang dapat membantu Anda membantu masalah tersebut”.  

b. Summary Akhir/keseluruhan
     Dalam buku Supriyo dan Mulawarman (2006), summary akhir merupakan kesimpulan yang dibuat pada akhir konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan. Bentuk kesimpulan yang dibuat pada akhir komunikasi konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan. Bentuk kesimpulan akhir tersebut didahului oleh kata-kata pendahuluan seperti: “Sebagai kesimpulan akhir....” ; “Sebagai puncak pembicaraan kita.....” ; “Sebagai penutup pembicaraan kita.....” ; “Dari awal hingga akhir pembicaraan kita....” dsb. Contoh: Klien : “Begini Bu, akhir-akhir ini banyak teman yang mengecewakan saya, ada yang tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, ada yang tiba-tiba menjelekkan saya. Saya jadi merasa terganggu, selain menjadi beban pikiran saya, saya juga tidak bisa berkonsentrasi belajar dan akibatnya nilai-nilai saya turun drastis”. Konselor : “Sebagai kesimpulan akhir dari pembicaraan kita tadi Ibu kemukakan bahwa Anda mempunyai kesulitan untuk berkonsentrasi dalam belajar”.  

B. Termination (Pengakhiran)

 1. Pengertian 

     Menurut Supriyo dan Mulawarman (2006) termination (pengakhiran) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk mengakhiri komunikasi berikutnya maupun mengakhiri karena komunikasi konseling betul-betul telah berakhir. Pada tahapan termination ini sebenarnya konselor bersama konseli menetapkan kesimpulan atas apa yang telah dihasilkan dalam proses konseling tersebut. Bila perlu, refleksikan kembali bagaimana perasaan konseli setelah prose konseling dilakukan, dan bagaimana pula pendapat konseli mengenai konselor, suasana yang ada dalam prose konseling. Hal tersebut penting karena dengan demikian akan menjadi koreksi tersendiri bagi konselor dalam pelaksanaan konseling berikutnya. Brammer (1987) mengemukakan cara-cara mengakhiri konseling, antara lain: a. Merujuk pada keterbatasan waktu yang telah disepakati bersama.

 b. Meringkas atau merangkum.
     Teknik meringkas isi konseling ini dapat dilakukan jika konselor menginginkan ringkasan faktor-faktor penting yang telah dibicarakan selama proses konseling. Ringkasan tersbut hendaknya menggambarkan isi pokok dari wawancara konseling.

 c. Merujuk pada waktu yang akan datang. 
      Dilakukan jika waktu konseling tidak cukup, bisa juga jika konselor ingin memelihara hubungan baik dengan konseli, hal ini bisa ditunjukkan dengan menggunakan pernyataan yang merujuk pada pertemuan berikutnya, misalnya, “Waktu kita hampir habis, kapan Anda ingin kembali lagi?”.

d. Berdiri. 
Berdiri merupakan persyaratan teknik persuasif untuk mengakhiri konseling, maka konselor dapat berdiri yang mengisyaratkan bahwa konseling telah berakhir, dan hal ini juga daoat dilakukan secara lembut sebelum konselin mempunyai kesempatan untuk pindah kepada topik lain.

e. Gerak isyarat halus. 
Gerak isyarat halus ini bisa dilakukan dengan melihat jam tangan atau jam dinding.

2. Tujuan Pengakhiran atau termination

     Bertujuan untuk menyelesaikan kegiatan konseling atau bila masih diperlukan melanjutkan ke pertemuan selanjutnya. Tujuan dari termination menurut Fauzan, Hidayah dan Ramli (2008) menyebutkan bahwa tujuan dari termination adalah:
  1. Memiliki peta kognitif perjalanan konseling, yaitu apa dan bagaimana tahap-tahap yang telah dilalui dan apa yang merupakan tahap konseling mendatang. 
  2. Mencapai pemahaman antara konselor dan konseli mengenai apa yang telah berhasil dicapai bersama dalam konseling.
  3. Mengkomunikasikan keperluan penyesuaian konseli terhadap pengambilan tanggung jawab seusai konseling. 
  4. Memelihara persepsi pantas konseli tentang penerimaan dan pemahaman konselor.  

3. Bentuk Pengakhiran 
 Menurut Fauzan, Hidayah dan Ramli (2008:61) menyebutkan bahwa jenis termination yaitu:
  • Pengakhiran langsung: murni Menunjuk pada verbalisasi konselor tersurat atau gamblang, dengan menyebutkan akan diakhiri pertemuan konseling dalam bentuk kalimat singkat, cukup tegas, dan menandakan kaidah bahasa pragmatik.
  • Pengakhiran tidak langsung: nonverbal, verbal Contoh: Respon nonverbal: memandang jam dinding/arloji, menata meja, mengemasi buku. Respon verbal : biasanya ditumpangkan pada teknik lain, misalnya interpretasi: “telah banyak yang anda ungkap sehingga membuat anda kelelahan, apakah anda bermaksud mengakhiri dulu pertemuan ini?” Respon verbal dengan teknik perangkuman akhir: “Dengan selesainya semua yang ingin anda ungkapkan dalam konseling hari ini, baik anda ingat-ingat dan lakukan apa garis besar yang kita bicarakan tadi”. 
Cara pengakhiran ini dapat dilakukan dengan cara misalnya konselor:
1) Merapikan kembali alat-alat yang telah digunakan,
2) Membuat kesimpulan akhir,
3) Membicarakan tugas-tugas yang hendak dilakukan sebelum pertemuan yang akan datang,
4) Dapat dilakukan secara langsung, misalnya konselor menunjukkan pembatasan waktu (time limit) konseling yang telah disepakati pada awal pertemuan. Contoh: Konselor : “Baiklah, sekarang waktu telah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Sesuai dengan kesepakatan kita di awal pertemuan tadi bahwa pertemuan kita ini hanya sampai pukul 09.30 WIB, maka marilah kita akhiri pertemuan ini dan dapat kita lanjutkan minggu depan”. 

 BAB III 
PENUTUP  

A. Kesimpulan 

     Summary (ringkasan/kesimpulan) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk menyimpulkan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan klien pada proses komunikasi konseling. Tujuan dari summary adalah memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik (feed back) dari hal-hal yang telah dibicarakan, untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, untuk meningkatkan kualitas diskusi, mempertajam atau memperjelas fokus pada wawancara konseling.
        Summary dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Summary bagian, dan (2) Summary akhir/keseluruhan. Modalita yang digunakan dalam teknik summary sebagian adalah: “Untuk sementara ini.........” ; “Sampai saat ini.........” ; “Sejauh ini.......” ; “Selama ini.....” dsb. Bentuk kesimpulan akhir didahului oleh kata-kata pendahuluan seperti: “Sebagai kesimpulan akhir....” ; “Sebagai puncak pembicaraan kita.....” ; “Sebagai penutup pembicaraan kita.....” ; “Dari awal hingga akhir pembicaraan kita....” dsb. Termination (pengakhiran) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk mengakhiri komunikasi berikutnya maupun mengakhiri karena komunikasi konseling betul-betul telah berakhir. 
      Tujuan dari termination menurut Fauzan, Hidayah dan Ramli (2008) menyebutkan bahwa tujuan dari termination adalah: memiliki peta kognitif perjalanan konseling, yaitu apa dan bagaimana tahap-tahap yang telah dilalui dan apa yang merupakan tahap konseling mendatang, mencapai pemahaman antara konselor dan konseli mengenai apa yang telah berhasil dicapai bersama dalam konseling, mengkomunikasikan keperluan penyesuaian konseli terhadap pengambilan tanggung jawab seusai konseling, memelihara persepsi pantas konseli tentang penerimaan dan pemahaman konselor.
      Jenis termination yaitu: Pengakhiran langsung: murni, dan Pengakhiran tidak langsung: nonverbal, verbal. Respon nonverbal: memandang jam dinding/arloji, menata meja, mengemasi buku. Respon verbal: biasanya ditumpangkan pada teknik lain, misalnya interpretasi: “telah banyak yang anda ungkap sehingga membuat anda kelelahan, apakah anda bermaksud mengakhiri dulu pertemuan ini?”. Respon verbal dengan teknik perangkuman akhir: “Dengan selesainya semua yang ingin anda ungkapkan dalam konseling hari ini, baik anda ingat-ingat dan lakukan apa garis besar yang kita bicarakan tadi”.  

B. Saran 

     Penulis berharap dengan adanya pemaparan tentang ketrampilan dalam konseling yaitu summary (ringkasan) dan termination (pengakhiran), masyarakat dapat menggunakan jasa para konselor dan memberikan kepercayaan bahwa konselor dapat membantu masyarakat melalui proses konseling.  

DAFTAR PUSTAKA 

Fauzan, Lutfi. Nur Hidayah & M. Ramli. 2008. Teknik-teknik Komunikasi untuk Konselor. Malang: Depdiknas UM UPT BK. Supriyo dan Mulawarman. 2006. Ketrampilan Dasar Konseling. Handout. Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Individual Teori dan Praktik. Bandung: Alfabeta.
 

Dunia Konseling Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez